Citra menakjubkan dari planet kerdil Pluto kembali didapatkan setelah data dari misi lintas dekat New Horizon diterima oleh Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) minggu lalu. 

Citra itu menyuguhkan pemandangan mantan planet itu secara detail. Namun, yang menarik bukan cuma kedetailan itu. Foto resolusi tinggi ini menyuguhkan wajah Al-Idrisi Montes, pegunungan di Pluto yang dinamai dengan nama ilmuwan Muslim. 

Al-Idrisi Montes sekilas mirip fitur pegunungan di bumi. Ada bukit, dataran rendah, dan sungai. Namun bedanya, pegunungan itu terbentuk atas es sehingga sungainya pun lebih layak disebut gletser.

Bagaimana bisa sebuah badan antariksa di benua yang mayoritas penduduknya mengenal dan menghormati Al-Idrisi, seorang ilmuwan muslim, dengan mengabadikannya menjadi sebuah fitur planet?

Al-Idrisi memang seorang ilmuwan ternama. Dia menghasilkan karya geografi yang begitu terkenal, Kit?b nuzhat al-musht?q f? ikhtir?q al-?f?q dan Kit? Ruj?r atau Al-Kit?b ar-Ruj?r?.

Dua karya tersebut dihasilkan saat Al-Idrisi bekerja pada Raja Roger II, raja sebuah kerajaan besar berbasis Katolik di Sisilia sekitar tahun 1.100 Masehi.

Dikutip dari Britannica, Al-Idrisi sendiri lahir di Sabtah, kini bagian dari Maroko, pada tahun 1.100. Dia merupakan keturunan muslim-muslim agung pada masa itu.

Leluhurnya adalah Khalifah Hammidid yang memimpin wilayah Spanyol dan Afrika bagian utara pada 1.016 – 1058. Khalifah itu sendiri adalah kepanjangan dari Dinasti Idrisid, sebua dinasti keturunan cucu tertua Muhammad, Al Hasan Ibn Ali.

Al Idrisi adalah seorang petualang. Ia keliling ke Spanyol dan Afrika bagian utara. Kemudian dia pernah belajar di Kordoba dan hidup di Konstantinopel.

Sekitar tahun 1.145, Al-Idrisi mulai bekerja pada Raja Roger II. Dia menjadi penasehat sekaligus diminta untuk menggambar peta dunia.

Selama bekerja pada Raja Roger II, Al-Idrisi menghasilkan sejumlah pencapaian. Pertama, planisphere perak yang disebut sebagai peta dunia saat itu.

Kedua, Al-Idrisi berhasil membuat peta dengan membagi bumi bagian utara menjadi 7 wilayah iklim, dan membagi masing-masing wilayah iklim menjadi 10 sub-area.

Ketiga adalah teks sebagai kunci memahami planisphere, yaitu Kit?b nuzhat al-musht?q f? ikhtir?q al-?f?q dan Al-Kit?b ar-Ruj?r?.

Planisphere karya Al-Idrisin hilang. Namun buku dan petanya berhasil diselamatkan. Ilmuwan Jerman, Konrad Miller, memublikasikan peta Al-Idrisi dalam bukunya, “Mappe Arabicae” pada tahun 1920-an.

Peta Al-Idrisi berguna bagi petualang-petuangan dunia masa lalu, termasuk Colombus. Peta itu adalah kontribusi nyata ilmuwan Muslim pada zamannya.