Eksekusi terhadap trio bomber Bali, Amrozi, Mukhlas alias Ali Gufron dan Imam Samudra telah dieksekusi tepat pukul 00.00 WIB, Minggu (9/11). Sebelumnya, menjelang pelaksanaan eksekusi beredar surat wasiat yang konon ditulis oleh ketiganya.

Ada surat yang diyakini benar, namun ada juga surat kebenarannya masih diragukan. Salah satu surat wasiat yang diyakini benar adalah surat yang ditulis ketiganya pada 12 September lalu. Surat itu dibuat setelah TPM menemuinya di LP Nusakambangan, Cilacap.

“Saya terima surat berisi pernyataan sikap yang diteken Imam Samudra, Mukhlas dan Amrozi. Surat itu pun diminta diumumkan ke publik,” kata anggota TPM Ahmad Michdan ketika itu.

Dinyatakan Michdan, Amrozi cs dalam suratnya itu mengutarakan 3 langkah yang bakal dilakoninya. Pertama, jika dibebaskan, Amrozi cs akan menjalani sisa hidupnya untuk jihad. “Di mana pun, mereka siap berjihad.”

Kedua, sambung dia, jika dieksekusi mati, Amrozi cs menyatakan siap. Karena dengan begitu mereka dapat bertemu dengan para nabi dan mereka menjadi mujahid yang mati syahid. “Dan insya Allah bertemu bidadari di surga,” ungkap Michdan.

Ketiga, Michdan menjelaskan, apabila Amrozi tetap tidak kunjung dieksekusi, maka akan ikhlas menerimanya, dan akan mengisi hidup dengan memanfaatkan sebaik-baiknya untuk beribadah.

Sedangkan surat wasiat lainnya, dibuat sendiri oleh Imam Samudra pada 31 Oktober lalu terdiri dari tiga amplop. Hal itu diungkapkan anggota Tim Pembela Muslim (TPM) Agus Setiawan, yang mendampingi keluarga Samudra di Serang.

Tiga dari amplop itu, lanjut Agus, dia berikan kepada istrinya Zakiyah Darajat. Satu lagi untuk ibu Imam Samudra, Embay Badriyah dan satu amplop berisi dua lembar kertas untuk TPM. Seluruh wasiat itu, sambung Agus, dibungkus dalam amplop bermerek Air Mail berwarna putih dan bergaris pinggir merah biru.

“Kalau yang pernah dibacakan kepada kami (TPM) dan keluarganya di Nusakambangan, itu yang dipegang TPM sekarang,” ucap Agus kala itu.

Agus menjelaskan, isi surat yang pernah dibacakan oleh Imam itu antara lain adalah kalau Aziz (Imam Samudera) ketika meninggal nantinya tidak ingin ditangisi. Kain kafan untuk membungkus jenazahnya haruslah paling murah. Kemudian Imam ingin dimakamkan di kampungnya, Lopang Gede, Serang, “Itu yang saya ingat,” ujar Agus.

Sedangkan sisa surat wasiat lainnya dipegang adik kandungnya Lulu Jamaludin. Surat itu, kata Lulu, sebenarnya diberikan Imam untuk ibunya Embay Badriyah. Namun, karena ibundanya sedang sakit-sakitan, belakangan ia dipercaya memegang surat yang diberikan ketika keluarganya menjenguk ke Nusakambangan beberapa bulan yang lalu itu. “Suratnya saya yang pegang,” kata Lulu.

Surat itu, tambah Lulu, masih tersimpan rapi dan masih disegel. Keluarganya baru akan membuka kalau sudah ada instruksi dari Imam Samudra.

Sementara, yang terbaru yang mengeluarkan surat wasiat adalah Mukhlas atau Ali Gufron, yakni pada Jumat (7/11). Dalam surat wasiatnya itu, Mukhlas mengatakan mengapa dirinya tidak mengajukan grasi karena negara Indonesia sekuler. Sedangkan mati syahid adalah cita-citanya.

Namun, yang paling menuai kontroversi adalah surat pernyataan yang ditandatangani oleh tiga terpidana mati itu pada Selasa (4/11). Surat yang terdiri dari tiga versi yakni bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan bahasa Arab. untuk yang bahasa Indonesia, tidak ditandatangani langsung oleh ketiganya. Tapi untuk bahasa Inggris dan Arab langsung ditandatangani ketiganya.

Dalam surat pernyataan itu, tertuliskan seruan kepada kaum muslim agar melakukan pembalasan terhadap, Presiden SBY, Wapres JK, Mekum dan HAM Andi Matalatta, Jaksa Agung Hendraman Supandji, Jampidum Abdul Hakim Ritonga. Karena, menurut surat itu, mereka terlibat dalam eksekusi Amrozi cs.

Menanggapi, surat kaleng tersebut, anggota TPM Achmad Kholid, mengaku tidak mengetahui. “Saya meragukan apa benar itu tandatangan dari mereka atau pernyataan dari mereka karena kemungkinan itu provokator. Saat ini orang sudah semakin kesal karena eksekusi ditunda-tunda,” cetus Kholid.