Masyarakat Jepang sangat menyukai bangunan berbahan kayu karena cocok untuk iklim di negeri itu. Maraknya bangunan yang menggunakan beton tak menyurutkan minat warga Jepang untuk tetap memakai kayu sebagai bahan dasar bangunan. Hal itu dapat dilihat di Kota Tokyo, Jepang. Layaknya kota-kota modern lain, Tokyo adalah hutan beton yang dihiasi gedung-gedung pecakar langit. Kendati demikian, hingga saat ini, bangunan berbahan kayu masih bisa dijumpai di kawasan itu.

Perlu diingat, kayu dikenal sebagai bahan bangunan yang kuat dan tahan lama. Itu terbukti dengan banyaknya bangunan kuno yang masih berdiri hingga saat ini. Kayu juga mampu menyimpan panas sehingga dapat mempertahankan suhu ruangan. Satu-satunya kelemahan kayu adalah sifatnya yang mudah terbakar.

Kelemahan itu kini tidak perlu dihadapi lagi. Sebuah perusahaan di Fukui, Jepang, menawarkan sebuah solusi yaitu dengan mengolah kayu sedemikian rupa sehingga menjadi tahan api. Keistimewaan itu dipicu oleh sebuah senyawa yang biasa digunakan pada pembuatan kaca. Kayu olahan yang mengandung senyawa tersebut tidak saja tahan api tetapi lebih kuat dan antirayap.

Saat terkena api, kayu olahan tersebut tidak terbakar atau mengeluarkan asap dan gas beracun. Proses itu terjadi karena senyawa yang terserap dalam kayu tersebut bereaksi terhadap panas api. Reaksi kimia akan membuat kayu bekerja menyerupai kaca serta tidak menghasilkan nyala api. Namun, kayu itu langsung berubah menjadi karbon. Bahkan, api tidak mampu menembus ke sisi lainnya.

Sejauh ini, kayu olahan tahan api telah digunakan untuk membuat kusen pelapis dinding dan lantai rumah ataupun pertokoan. Konsumen produk ini umumnya mengaku senang karena kayu tahan api terbukti cukup kuat untuk digunakan dalam mendirikan bangunan tradisional. Selain itu, kayu olahan tahan api juga menumbuhkan minat warga untuk kembali mencintai bangunan berbahan kayu di Jepang.

Penemuan ini juga mendatangkan keuntungan ekologi. Kayu-kayu ini diambil dari bagian pohon yang kurang memiliki nilai ekonomis dan biasanya dibuang begitu saja. Dengan demikian, pohon dan hutan tetap lestari.